Kaktus Kakak [On Going]

Kaktus Kakak [On Going]

  • WpView
    LECTURAS 15
  • WpVote
    Votos 7
  • WpPart
    Partes 6
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, mar 26, 2026
WpInfo
Ficción
Romance
"Makin erat kau genggam, makin sakit." ​ ​Bagi Aruna Wijaya, menjadi anak bungsu dalam keluarga dengan empat kakak laki-laki bukanlah sebuah anugerah, melainkan jeratan. Sejak kepulangannya dari Amerika, hidup Aruna tidak lagi menjadi miliknya. Di bawah pengawasan ketat Aiden, Cakra, dan Bagas, setiap langkah Aruna diatur-termasuk keharusan bersekolah di tempat yang sama agar tetap dalam jangkauan "penjagaan" mereka. ​Aruna merasa seperti kaktus di tengah genggaman saudara-saudaranya; semakin mereka berusaha melindunginya dengan erat, semakin duri-duri itu melukai kedua belah pihak. ​Di tengah rasa sesak karena kehilangan kebebasan, Aruna terjebak dalam pesona Aditya, seorang cowok yang justru menjadi musuh besar kakak-kakaknya. Aruna mengira ia telah menemukan pelarian, namun ia justru terjerumus ke dalam pengkhianatan yang menghancurkan dirinya. ​Saat rahasia kelam terungkap dan semua orang memojokkannya, Aruna menyadari bahwa tidak ada tempat lagi untuknya bersandar. Ketika penyesalan akhirnya datang menghampiri para kakak, mampukah mereka memutar waktu, ataukah "kaktus" kecil mereka sudah layu membawa luka yang tak pernah sembuh? ⚠️ Dilarang plagiat! Ini cerita berdasarkan pengalaman author!
Todos los derechos reservados
#393
fiksiindonesia
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • The Time
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido