hujan sore itu turun tipis tipis, menciptakan aroma tanah yang besar disepanjang jalan menuju apartemenku.
Disampingku, Kenan berjalan sambil memuyungiku, memastikan tidak ada satu tetes pun air yang mengenai pundakku, meskipun bahu kirinya sendiri sudah basah kuyup.
"kenapa melamun ?" suara lembut Kenan memecah keheningan. ia merangkul bahuku lebih erat.
aku tersenyum tipis, mencoba mengusir bayangan -banyangan gelap yang mendadak melintas. " enggak apa apa,Ken. cuman capek sedikit"
Kenan berhenti melangkah, membuatku ikut berhenti. ia menangkap wajahku dengan satu tangan yang terasa hangat. tatapanya penuh ketulusan _jelas tatapan yang seharusnya membuatku merasa aman.namun, jauh dilubuk hatiku. rasa sesak itu kembali muncul.
" aku disini,Ra. aku nggak akan kemana mana " . ucapnya seolah bisa membaca ketakutan yang ku sembunyikan dibalik bola mataku.
aku ingin mempercayainya, sungguh. tapi setiap kali dia berkata begitu, memori lama itu berputar seperti kaset rusak. dulu, ada seseorang yang menjanjikan hal sama , lalu pergi begitu saja saat wanita dari masa lalunya datang kembali.
" kamu janji" , tanyaku lirih, suaraku hampir hilang ditelan suara hujan.
Kenan tersenyum lembut menatapku, lalu mengecup keningku lama. " aku janji ".
aku membalas pelukannya mencoba mencari perlindungan didadanya. namun, pertanyaan itu tetap bergema dikepalaku, tak mau hilang,menjadi judul besar di hidupku yang penuh keraguan.
AKANKAH KAMU PERGI JUGA, KEN ?.
Todos los derechos reservados