We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Timekeeper. 001

Timekeeper. 001

  • WpView
    Reads 215
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 26, 2026
WpInfo
Fiction
Fantasy
High Fantasy
(Ditemani ilustrasi disetiap bab!) Ia tumbuh di tempat yang seharusnya memberi perlindungan, namun justru menjelma menjadi ruang pengujian tanpa nama. Panti asuhan ilegal itu berdiri sunyi di pinggir kota, berdinding pucat dan beraroma obat yang tak pernah benar-benar hilang. Di sanalah wanita ini dibesarkan-bukan sebagai anak, melainkan sebagai subjek. Sejak kecil, ia diajari untuk patuh pada jam, pada perintah, pada senyum palsu para pengelola. Teknik-teknik terlarang itu tidak pernah dijelaskan; hanya dirasakan sebagai latihan keras yang merampas pilihan, mengukur ketahanan, dan menghapus rasa takut dengan cara yang salah. Tidak ada jeritan yang dicatat, tidak ada luka yang diakui. Semua disamarkan sebagai "pendidikan." Namun dari tekanan itulah pikirannya ditempa. Ia belajar membaca celah di balik aturan, menghafal pola penjagaan, dan memahami satu hal penting: sistem itu rapuh karena dibangun di atas kebohongan. Ia bukan yang paling kuat, tapi yang paling peka. Ia menyimpan amarahnya seperti bara-tenang di luar, menyala di dalam. Anak-anak lain melihatnya sebagai bayangan yang bergerak pelan, selalu hadir ketika ada yang putus asa. Ia tak berteriak menghasut; ia berbisik, mengajukan pertanyaan sederhana yang berbahaya bagi penjara mana pun: kenapa kita harus tinggal? Dari bisikan itu lahir keberanian. Dari keberanian lahir rencana. Perlawanan mereka tidak meledak; ia merambat. Aturan dilanggar sedikit demi sedikit, kepatuhan dipatahkan dengan kebersamaan. Ia mengajarkan mereka untuk saling percaya, sesuatu yang tak pernah diajarkan panti itu. Dan ketika malam akhirnya membuka pintu, anak-anak itu pergi-bukan sebagai korban yang kabur, melainkan sebagai pemberontak yang memilih hidupnya sendiri. Wanita itu melangkah terakhir. Ia menoleh sekali, memastikan tak ada yang tertinggal. Masa lalunya tetap tinggal di balik dinding pucat itu, tapi api yang dinyalakannya telah menyebar-cukup terang untuk menunjukkan jalan keluar.
All Rights Reserved
#155
psychology
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PEPINDHAN: Wadana lan Soca
  • The Unwritten Lady
  • A Family of Villains
  • My Villainous Stepmom [END]
  • The Duke's Red String
  • The Reborn Mama (END)
  • Just let me live, Duke!
  • Sin of The Villainess
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • Ibu Tiri Menolak Mati di Kehidupan ke-7

📌 BACA SEASON 1 TERLEBIH DAHULU [NITI WADAH: Sang Titisan Barong] PEPINDHAN: Wadana lan Soca "Satu rupa untuk dilihat, satu mata untuk merasa." [CERITA INI MURNI PEMIKIRAN SENDIRI. KALAU ADA KESAMAAN ALUR, KATA, LATAR, ATAU NAMA TOKOH ITU TIDAK DI SENGAJA]

More details
WpActionLinkContent Guidelines