
Firly selalu percaya bahwa perasaan datang dengan cara yang pelan-sepelan hujan yang turun tanpa suara, namun cukup lama hingga tanah tak lagi kering. Ia tak pernah benar-benar menyadari kapan semuanya bermula. Mungkin dari candaan yang terlalu sering. Mungkin dari kebiasaan duduk berdampingan. Atau mungkin dari cara Keilan menatapnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Candaan kecil yang awalnya terasa mengganggu, perlahan berubah menjadi kebiasaan yang menghangatkan. Keilan selalu menemukan alasan untuk duduk di dekatnya, memulai obrolan yang tak penting, atau sekadar melempar tatapan yang membuat Firly merasa dilihat lebih dari biasanya. Tanpa disadari, Firly mulai menunggu momen-momen itu. Menunggu Keilan, seperti menunggu bagian hari yang paling ia sukai. Perasaan itu tumbuh pelan, hampir tak terasa. Hingga suatu hari, Firly menyadari bahwa hatinya telah melangkah terlalu jauh. Kenyataan kemudian datang, dingin dan tak bisa dihindari Keilan sudah memiliki kekasih. Dan sejak saat itu, setiap tawa, setiap percakapan, setiap kedekatan yang dulu terasa hangat, berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan. Firly tetap berada di sisi Keilan, namun dengan kesadaran baru yang menyesakkan-bahwa posisinya tak pernah benar-benar punya nama. Ia ada, tapi tak bisa diakui. Dekat, tapi tak pernah resmi. Hadir, namun harus tersembunyi. Firly tak pernah memilih berada di posisi ini. Ia hanya terlambat menyadari bahwa hatinya telah jatuh pada seseorang yang tak pernah sepenuhnya sendiri.All Rights Reserved
1 part