Setelah Timur, Kami Berbeda
8 فصول مستمرّة Tujuh mahasiswa dari tujuh jurusan berbeda dipertemukan bukan karena pilihan, melainkan kewajiban.
Rama Sangaji Mahendra yang selalu terlihat siap memimpin.
Harsha Araga-nama yang hampir semua orang di Universitas Siliwangi Mandiri kenal.
Arjuna Tamael yang hidup di antara kata dan makna.
Rajendra Septihan yang lebih nyaman bekerja dalam diam.
Antasena Putra Septian yang terlalu sering mendahulukan orang lain.
Panji Abimawa yang mengekspresikan dunia lewat gerak dan gambar.
Cello Wiratmana yang terlihat santai, seolah tak pernah benar-benar peduli.
Mereka tidak saling mengenal.
Bahkan sebagian dari mereka tak pernah berada di dunia yang sama.
Hingga sebuah penempatan KKN reguler membawa mereka jauh dari Jakarta-ke sebuah desa pesisir di timur Indonesia, tempat sinyal sulit ditemukan, listrik sering padam, dan hidup berjalan lebih lambat dari yang mereka kenal.
Di sana, tanpa kenyamanan, tanpa jarak, dan tanpa topeng, tujuh orang asing dipaksa hidup bersama.
Pelan-pelan, perbedaan menjadi pelajaran.
Kesalahpahaman menjadi obrolan larut malam.
Dan kebersamaan berubah menjadi rumah sementara.
Karena tidak semua keluarga lahir dari darah.
Sebagian lahir dari perjalanan pulang yang tidak pernah direncanakan.