"Dulu, aku mengira rumah adalah tempat untuk pulang saat dunia sedang jahat-jahatnya. Tapi ternyata, rumahku adalah pusat dari segala luka."
Bagi Ara Kinanti, tiga tahun pernikahannya dengan Revan Ardiansyah adalah penjara tanpa jeruji. Di mata dunia, Ara adalah ratu di istana megah. Namun di balik pintu tertutup, dia hanyalah "pajangan rusak" yang menahan caci maki sang suami dan hinaan ibu mertuanya setiap hari.
Revan yang dulu mencintainya dari nol, kini berubah menjadi monster yang silau akan harta dan tahta. Kehadiran Salsa, wanita karier yang glamor, membuat Revan tak ragu menginjak harga diri Ara hingga ke titik nadir. Ara dipaksa menelan kenyataan pahit bahwa dirinya dianggap "nol besar" dan tidak berharga.
Namun, seekor burung yang sayapnya patah bukan berarti tak bisa terbang kembali.
Saat lelahnya sudah sampai ke sumsum tulang, Ara memutuskan untuk berhenti menangis. Dari balik daster kusam dan dapur yang pengap, Ara mulai menyusun kepingan rencana. Dia tidak hanya ingin pergi; dia ingin Revan merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya-harta, martabat, dan kebebasan.
"Kamu bilang aku nol tanpa kamu, Van? Mari kita buktikan, siapa yang akan menjadi abu saat rahasia besarmu meledak di tanganku."
Ini bukan sekadar cerita tentang istri yang dikhianati. Ini adalah perjalanan tentang rasa lelah yang berubah menjadi keberanian, dan tentang seorang wanita yang menemukan kembali mahkotanya di tengah puing-puing kehancuran.
Todos los derechos reservados