SIKLUS
  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 15, 2026
Ada hubungan yang tidak pernah benar-benar berakhir. Bukan karena mereka masih bersama, tapi karena tak satu pun dari mereka benar-benar pergi. Mereka ahli dalam berpamitan. Ahli dalam berkata "cukup sampai sini." Namun selalu gagal dalam benar-benar mengikhlaskan. Setiap jarak terasa final. Setiap diam terasa tegas. Tapi ketika malam datang dan sunyi mulai bicara, nama yang sama kembali muncul di kepala. Mereka tidak kekurangan cinta. Mereka hanya terlalu penuh ego untuk mengakuinya. Kenangan menjadi penghubung yang tak terlihat- muncul lewat lagu lama, lewat jam-jam tertentu, lewat percakapan yang sebenarnya sudah dihapus, tapi tidak pernah benar-benar hilang. Ini bukan kisah tentang siapa yang lebih mencintai. Ini tentang siapa yang lebih dulu menyerah pada gengsi. Tentang dua orang yang selalu yakin bisa pergi, namun selalu menemukan jalan untuk kembali. Sebuah siklus. Tentang rindu yang disangkal. Tentang perasaan yang ditahan. Tentang dua hati yang sama-sama ingin dimengerti, tapi tak pernah mau menjadi yang pertama mengalah. Dan mungkin, yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan itu sendiri- melainkan kesadaran bahwa mereka terjebak dalam pola yang sama... tanpa pernah benar-benar belajar darinya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • Blueprint Pelarian Villain
  • GHAIKA (REVISI)
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GRAVARENZO
  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines