NURUL SERIES - WANITA SIMPANAN

NURUL SERIES - WANITA SIMPANAN

  • WpView
    Reads 139
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 14, 2026
Nurul Lavina, 27 tahun, perempuan mandiri yang bekerja di bagian akuntansi sebuah perusahaan peternakan, terus dihantui satu pertanyaan yang sama: "Kapan nikah?" Tekanan keluarga dan lingkungan membuatnya sering mempertanyakan pilihan hidupnya. Ia pernah hampir menikah, namun membatalkan lamaran karena tak ingin kehilangan dirinya dalam hubungan yang penuh kontrol. Sejak saat itu, Nurul menjadi lebih berhati-hati. Ia ingin menikah, tetapi bukan karena takut dianggap terlambat-melainkan karena keyakinan dan cinta yang sehat. Di tengah rutinitas kantornya, hidup Nurul mulai berubah ketika ia semakin sering berinteraksi dengan Achmad, pria dari divisi legal. Achmad sosok yang dewasa, tenang, dan penuh perhatian-berbeda dari pria-pria yang sebelumnya mendekat dengan niat setengah hati. Bersamanya, Nurul merasa didengar, dihargai, dan dipahami. Perlahan, kenyamanan itu tumbuh menjadi kedekatan yang tak lagi bisa ia pungkiri. Namun kebahagiaan itu tak datang tanpa bayang-bayang. Achmad telah memiliki istri. Hati Nurul diliputi kegundahan. Di satu sisi, ia tahu hubungan itu salah. Di sisi lain, ia merasa menemukan ketenangan yang selama ini ia cari. Perhatian Achmad yang konsisten dan janji-janji masa depan membuat Nurul goyah pada prinsip yang selama ini ia jaga. Dalam pusaran perasaan yang rumit-antara kesepian, tekanan usia, dan keinginan dicintai-Nurul akhirnya menyerahkan sesuatu yang selama ini ia pertahankan: kehormatannya. Achmad berjanji akan menjadikannya istri kedua. Janji itu menjadi pegangan sekaligus belenggu. Nurul terjebak dalam dilema antara cinta, rasa bersalah, dan harga diri. Ia harus menghadapi pertanyaan yang lebih besar dari sekadar "kapan nikah?"-yakni, apakah cinta yang hadir dalam bayang-bayang bisa benar-benar membawanya pada kebahagiaan, atau justru menjadikannya sekadar wanita simpanan dalam cerita orang lain?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Salah Status

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines