Monsters Under The Bed

Monsters Under The Bed

  • WpView
    LECTURAS 603
  • WpVote
    Votos 65
  • WpPart
    Partes 12
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, mar 16, 2026
"Apa lo pernah merasa diawasi?"Suara itu pelan. Hampir seperti bisikan yang lahir dari dinding kamar. Evan terdiam di ambang pintu apartemennya sendiri. Kunci masih menggantung di tangannya. Ia menoleh ke belakang, ke lorong yang kosong dan remang. Tidak ada siapa-siapa. Di dalam kamar yang gelap, di ruang yang terlalu sunyi, seseorang sudah lebih dulu berada di sana. Elara menahan napas di bawah ranjang, tubuhnya menyatu dengan bayangan. Debu menempel di ujung jari dan lututnya, tapi ia tidak peduli. Ia bisa mendengar suara langkah Evan, berat dan lelah, bergerak mendekat. Ia selalu menyukai suara itu, ritme yang sudah ia hafal selama sembilan tahun. Kasur berderit pelan ketika Evan merebahkan tubuhnya. Beberapa menit kemudian, napasnya berubah menjadi lebih dalam, lebih berat, dan tak lama tertidur lelap. Elara tersenyum dalam gelap. Ia merangkak keluar perlahan, berdiri di samping ranjang. Matanya menatap wajah pria berusia dua puluh tujuh tahun itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan, terlalu lembut untuk disebut benci, terlalu dingin untuk disebut cinta. Tangannya masuk ke saku celana. Kain itu sudah ia siapkan. "Aku cuma ingin kamu diam," bisiknya pelan, seolah Evan bisa mendengar. Gerakannya cepat. Kain basah yang berbau zat kimia menyengat itu menutup mulut Evan. Pria itu tersentak, matanya setengah terbuka dalam kebingungan. Tubuh Evan bergerak gelisah, tangannya mencoba meraih sesuatu, namun perlahan melemah. Nafasnya terputus-putus sebelum akhirnya jatuh tak berdaya. Tangannya membuka kancing baju Evan satu per satu. Bukan terburu-buru, bukan kacau, semuanya dilakukan dengan kontrol. Telapak tangannya mengusap dada pria itu, lalu turun hingga ke perutnya. Tiba-tiba, ia menekan kuat. Tubuh Evan bereaksi refleks meski tak sadar, bergelojak lemah karena rasa sakit yang tak bisa ia lawan. Elara tersenyum tipis. "Kamu tetap merespons aku... bahkan dikondisi seperti ini."
Todos los derechos reservados
#290
obsesif
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status
  • Satu Tahun Saja
  • Merciless Ex Obsession
  • Daddy Sitter 21+ (END)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa
  • Almost Married (On Going)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido