Waah... jadi keras..." gumam Lisa sambil jongkok, menyentuh salah satu 'kue' yang sudah kering. "Keras banget... kayak... kayak beneran kue kering..."
Dia mengangkat satu 'kue' kecil-yang dulu berbentuk bulat, sekarang jadi agak retak tapi tetep bulat. Keras. Padat.
"Wah... teksturnya kayak cookies..." Lisa memutar 'kue' itu di tangannya, mata bulatnya menatap dengan penuh ketertarikan. "Coklat juga warnanya..."
Dia ingat cokelat yang masih di tangan kiri-cokelat dari Miguel yang belum dibuka.
Otaknya yang sepuluh tahun mulai bekerja dengan logika unik ala Lisa.
"Hmm... kalau... kalau aku makan cokelat bareng kue tanah ini... pasti rasanya kayak cookies cokelat yah...?" gumamnya pelan-ngomong sama diri sendiri.
Dia buka cokelat Miguel-patah setengah, masukin mulut. Manis. Enak.
Lalu dia menatap 'kue tanah' kering di tangan kanannya.
"Cuma... cuma coba dikit aja..." bisiknya sambil mendekatkan 'kue tanah' itu ke mulut. "Cuma jilat... nggak dimakan... cuma... cuma cek teksturnya aja..."
'Kue tanah' itu makin dekat-lima senti dari bibir.
"Cuma... cuma sentuh lidah dikit..."
Tiga senti.
"Nggak bakal dimakan kok... cuma..."
Satu senti-
"LISA!"
Lisa terlonjak-hampir jatuh ke belakang. 'Kue tanah' lepas dari tangannya, jatuh ke rumput.
Miguel berdiri di pintu belakang, nafas sedikit ngos-ngosan karena lari cepat. Mata sipitnya menatap tajam-campuran khawatir dan 'aku tau kamu mau ngapain'.
"M-Miguel?!" Lisa berdiri cepat, pipinya langsung memerah. "Kenapa... kenapa kamu kesini?!"
"Kamu mau makan itu kan?" Miguel melangkah mendekat, menatap 'kue tanah' yang jatuh di rumput.
"NGGAK!" teriak Lisa defensif maksimal-reflek. "Aku cuma... cuma lagi lihat-lihat aja!"
All Rights Reserved