Aruna menyimpan rasa pada Aksa, namun rasa itu tak pernah sampai terdengar oleh Aksa. Yang awalnya Aruna anggap hanya cinta monyet, perlahan membuatnya sadar bahwa perasaan ini jauh lebih dalam dari sekadar kekaguman sesaat - melainkan sesuatu yang tumbuh diam-diam, menetap, dan sering kali membuat dadanya terasa sesak. Ia belajar menyembunyikan rindu di balik senyum biasa, menahan kata-kata yang selalu berhenti di ujung bibir, dan berpura-pura baik-baik saja setiap kali Aksa berada begitu dekat namun terasa sangat jauh.
Hari-hari berlalu, tetapi perasaan itu tidak ikut memudar. Aruna mulai memahami bahwa tidak semua cinta diciptakan untuk dimiliki; ada yang hanya hadir untuk dirasakan, disimpan, dan dipelajari dalam sunyi. Di antara harapan yang tak pernah diucapkan dan kenyataan yang tak bisa diubah, Aruna terus berjalan - membawa satu nama yang selalu tinggal di hatinya, meski kisah mereka tak pernah benar-benar dimulai.