Rintik dalam Asmara

Rintik dalam Asmara

  • WpView
    Membaca 37
  • WpVote
    Vote 6
  • WpPart
    Bab 6
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Agt 17, 2026
WpInfo
Fiksi
Romansa
Perguruan Tinggi dan Universitas
Komedi Romantis
Cinta Pertama
"Tunda itu bahasa politis,kalau aku ngelamar kamu jawabannya hanya Terima atau Tolak" Langit sore itu berwarna abu-abu. Awan menggantung rendah, seolah menahan sesuatu yang sebentar lagi akan jatuh. Adisti Prameswari berjalan cepat keluar dari laboratorium farmasi. Rintik pertama jatuh saat ia berhenti di depan halte bus. Satu tetes, lalu dua, lalu semakin banyak. Dan di sanalah ia melihatnya. Seorang laki-laki berdiri menatap langit seolah sedang memikirkan dunia. Tatapannya tidak sengaja bertemu dengan Adisti. Tidak lama, tidak dalam, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Attala Mahesa. Presma dari sebuah kampus ternama di kota Jogjakarta. Dia tahu menjadi pemimpin berarti terbiasa dengan keputusan besar. Memilih. Menolak. Menerima. Tanpa ragu. Namun, tidak ada satu pun yang pernah mengajarkan Atta bagaimana caranya memutuskan soal hati. Apalagi hati seorang Adisti.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#258
college
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Nala dan Mas Juragan
  • Under The Authority Of Senopati
  • Círculo del Destino
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Pregnant With The Protagonist's Child (END)
  • Night Calls
  • My Celestia || Kabur dari Perjodohan, Jatuh ke Pelukan Konglomerat [21+] END
  • A Matchmaker's Quest [END]
  • Clause of Us
  • Mas Bupati

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan