Kiara Rosalind Maheswari
Tidak semua anak tumbuh dengan rumah yang hangat.
Sebagian tumbuh dengan dinding, suara, dan luka.
Kiara Rosalind Maheswari adalah salah satunya.
Sejak usia sembilan tahun, dunia Kiara pecah dalam diam. Bukan karena teriakan, bukan karena pertengkaran besar, melainkan karena dua orang dewasa yang tiba-tiba berhenti saling menatap. Arya, ayahnya, dan Elisabeth, ibunya, berdiri di ruang tamu dengan jarak di antara mereka-jarak yang tidak bisa dijembatani lagi.
"Mulai sekarang, Kiara dan Nayara ikut Ayah," kata Arya waktu itu.
Kiara masih kecil, tapi cukup besar untuk tahu bahwa kalimat itu bukan tentang memilih, melainkan tentang kehilangan.
Ia menggenggam tangan adiknya, Nayara, yang masih terlalu polos untuk mengerti kenapa ibunya tidak lagi tinggal di rumah yang sama.
Ibunya pergi.
Dan tidak pernah benar-benar kembali.
Kiara dan Nayara tidak dibesarkan oleh ayah mereka, meski secara hukum mereka berada di bawah hak asuh Arya. Mereka tumbuh di rumah kakek dan nenek, bersama om dan sepupu-sepupu yang tak pernah benar-benar menganggap Kiara sebagai keluarga yang setara.
Di rumah itu, Kiara belajar bahwa diam adalah cara terbaik untuk bertahan.
"Kenapa kamu nggak bisa kayak Nayara?"
"Sepupumu itu lebih pintar."
"Kamu ini cuma bikin malu."
Kata-kata itu datang setiap hari, seperti hujan yang jatuh pelan tapi tak pernah berhenti. Kiara menjadi terbiasa berdiri dengan kepala tertunduk, sementara Nayara dipuji dan disayang. Ia tidak membenci adiknya-tidak pernah. Ia hanya lelah menjadi anak yang selalu kurang.
Ayahnya pun tidak berbeda.
All Rights Reserved