Mel-ankolia: Lensa yang Berbeda adalah sebuah kisah tentang bagaimana cinta tidak selalu datang melalui kata-kata manis, melainkan melalui cara seseorang memandang duniamu.
Cerita ini berpusat pada Shafiyah, seorang mahasiswi Sastra yang hangat dan ceria, yang tanpa sengaja masuk ke dalam lingkaran persahabatan lima orang dengan karakter yang bertolak belakang. Di sana, ia bertemu dengan Mel, seorang mahasiswa Teknik Sipil yang dingin, kaku, dan lebih sering bicara lewat lensa kamera DSLR-nya daripada dengan suaranya sendiri.
Bagi Mel, dunia adalah tentang presisi dan logika, sampai akhirnya lensanya "terkunci" pada sosok Shafiyah. Pertemuan di rumah Riqwan-sahabat yang selalu ada dan menyimpan rasa-menjadi awal dari distorsi perasaan yang tidak bisa Mel jelaskan. Di sisi lain, hadir pula Aris, sosok senior yang dewasa dan tenang, yang memberikan perlindungan tanpa banyak bicara.
Namun, cinta Mel memiliki warnanya sendiri: Posesif, kaku, namun sangat mendalam. Saat sebuah insiden di gunung membuat kaki Shafiyah terluka, dinding pertahanan Mel runtuh. Ia yang biasanya cuek berubah menjadi pelindung yang teramat protektif, menciptakan persaingan sengit antara perhatian hangat Riqwan, ketenangan Aris, dan keposesifan Mel yang dingin.
"Mel-ankolia" bukan sekadar cinta segitiga biasa. Ini adalah perjalanan tentang memahami batasan, tentang tangan dingin yang mencari kehangatan di pipi seseorang, dan tentang bagaimana sebuah lensa yang berbeda dapat menangkap keindahan yang selama ini tersembunyi dalam duka.
> "Karena terkadang, cinta yang paling tulus tidak butuh sorot lampu panggung. Ia hanya butuh fokus yang tepat untuk tetap tinggal."
All Rights Reserved