Sementara Di Bahumu

Sementara Di Bahumu

  • WpView
    Reads 79
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 25, 2026
Hiraya terbiasa kuat Bukan karena ingin, tapi karena harus. Ia tahu bagaimana rasanya dipeluk tanpa benar-benar merasa aman. Ia tahu bagaimana rasanya memiliki rumah tanpa merasa pulang. Rumahnya bukan tempat penuh luka, hanya saja bukan tempat yang membuatnya ingin pulang. Lalu, ia bertemu Sagara. Namanya saja sudah seperti laut. Tenang, luas, dan tidak pernah memaksa. Ia tidak menawarkan pelarian, ia hanya hadir dengan lapang juga kedalaman yang tak terukur Dan ini, bukan kisah dua orang yang saling menyelamatkan. Ini tentang bertumbuh, tentang jarak dan tentang cinta yang tidak selalu berarti tinggal, tapi menyembuhkan. Karena hidup, tidak selalu berakhir dengan sederhana.
All Rights Reserved
#624
bittersweet
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines