Kelas XI IPS 2 (XI-B) adalah kelas paling ribut, paling absurd, dan paling tidak bisa dipercaya kalau disuruh diam lima menit.
Di tengah kekacauan itu, ada Aira.
Cewek yang kelihatannya biasa saja.
Suka ketawa. Suka balas hinaan teman-temannya. Sering ikut debat nggak penting tentang siapa yang paling miskin kuota.
Tapi seperti yang orang bilang-
semua orang punya rahasia.
Bersama Raka yang terlalu percaya diri, Juno yang hobi mengomentari hidup orang lain padahal hidupnya sendiri nggak jelas, Mita yang drama tapi cerewetnya setara pengeras suara masjid, dan Tari yang kelihatan kalem tapi tajamnya melebihi silet-hari-hari Mereka dipenuhi perang receh, roasting dalam batas wajar, dan teori konspirasi yang nggak ada gunanya.
Ditambah Pak Eko, wali kelas mereka yang sebelas dua belas stresnya sama murid-muridnya.
Hidup mereka kelihatan seperti komedi situasi tanpa naskah.
Mereka saling hina.
Saling ejek.
Saling nyebelin.
Tapi diam-diam, masing-masing menyimpan sesuatu yang nggak pernah benar-benar mereka ceritakan.
Tentang rumah yang nggak selalu nyaman.
Tentang rasa takut yang nggak pernah diakui.
Tentang masa lalu yang cuma muncul kalau malam terlalu sepi.
Dan di antara semua itu, ada satu hal yang mereka pura-pura nggak sadar-
Bahwa kadang, perasaan bisa tumbuh tanpa izin.
Tipis.
Nggak jelas.
Tapi ada.
Ini bukan cerita tentang cinta besar.
Bukan juga tentang tragedi yang dramatis.
Ini cerita tentang sekelompok anak SMA yang terlalu banyak bercanda untuk menutupi hal-hal yang sebenarnya serius.
Karena kadang, cara paling aman untuk bertahan adalah tertawa.
Dan di kelas itu, tawa adalah tameng mereka.
Todos os Direitos Reservados