Valencia Aureliana Pradipta tidak percaya pada takdir.
Baginya, pertemuan hanyalah kebetulan yang dilebih-lebihkan.
Sampai ia bertemu Devara Atharendra Mahesa.
Sekali di stasiun.
Lalu lagi di kafe.
Dan lagi... di tempat yang bahkan tak pernah ia rencanakan.
Terlalu sering untuk disebut kebetulan.
Terlalu terasa untuk diabaikan.
Di antara pertemuan-pertemuan yang aneh, percakapan canggung, dan momen konyol yang tak terduga, Valencia mulai bertanya-
Apakah semesta memang sedang mempermainkannya?
Atau justru sedang mengarahkan hatinya?
Karena mungkin, cinta bukan tentang siapa yang datang pertama.
Melainkan siapa yang, sejauh apa pun melangkah,
akan selalu menemukan jalan untuk kembali.
All Rights Reserved