SORAI
antara sorai dan selamat tinggal
Di atas panggung, Sore adalah cahaya. Ia bergerak ringan seperti tak pernah menyentuh tanah, seperti tak pernah mengenal lelah.
Lampu sorot mencintainya.
Tepuk tangan memanggil namanya.
Dan dunia percaya-ia dilahirkan untuk berdiri di sana.
Namun tak ada yang melihat bagaimana kakinya gemetar di balik sepatu satin, bagaimana napasnya kadang terasa terlalu berat untuk ditahan sendirian.
Balet adalah mimpi yang ia peluk sejak kecil.
Perlahan, mimpi itu berubah menjadi sesuatu yang menuntut segalanya- waktu, tenaga, bahkan dirinya sendiri. Lalu, di sebuah toko buku kecil yang hampir selalu sepi, ia bertemu seseorang yang tak pernah menatapnya seperti penonton. Tak pernah menilai lengkung punggungnya atau tinggi lompatan kakinya. Hanya menanyakan, dengan suara yang pelan,
"Kalau bukan di atas panggung, kamu ingin jadi apa?"
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi untuk pertama kalinya, Sore tak tahu jawabannya.
Di antara sorai yang memekakkan dan keheningan yang menenangkan,
ia mulai menyadari-tidak semua yang berkilau adalah kebahagiaan.
Dan tidak semua yang terasa sunyi adalah kesepian.
Karena terkadang, untuk menemukan diri sendiri,
kita harus berani melangkah turun dari panggung
dan membiarkan dunia berhenti bertepuk tangan.
🦢🦢🦢
Gumi selalu dipaksa untuk mengalah pada adik, dan mengerti keadaan kakak.
Pada suatu malam, Gumi yang biasanya mau mengalah pada adik dengan mudah, tiba-tiba tidak mau berbagi sampai adiknya menangis dan membuat Mama marah. Tidak hanya Mama, Papa juga marah akan sikap Gumi.
Setelah mendapatkan hukuman dari Papa, Gumi jatuh terlelap karena sudah lelah menangis. Namun apa yang dia dapatkan ketika terbangun? Gumi bertransmigrasi ke tubuhnya satu tahun yang lalu.
Gumi bertekad untuk tidak mengemis perhatian dari kedua orang tuanya. Gumi akan berusaha menjadi anak yang mandiri dan memutuskan untuk menghindari kedua orang tuanya.