Senja di Batavia

Senja di Batavia

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 18, 2026
Batavia, 1825. Senja turun perlahan, menelan langit dengan warna merah darah. Kota itu tak pernah benar-benar damai. Di balik tembok tinggi, di balik rumah-rumah besar para bangsawan, selalu ada bisikan pengkhianatan. Hari ini seseorang menjual sahabatnya. Besok seseorang menjual tanah airnya. Dan hari berikutnya... mungkin seseorang akan menjual hatinya. Angin laut membawa bau mesiu. Pelabuhan dipenuhi kapal perang. Para serdadu berpatroli di setiap sudut. Masa-masa seperti ini melahirkan dua jenis manusia: pahlawan... dan pengkhianat. Namun yang paling berbahaya adalah mereka yang mampu menjadi keduanya sekaligus. Di sebuah rumah besar milik pejabat kolonial, lilin-lilin menyala redup. Di dalam ruangan, beberapa pria duduk melingkar. Mereka mengenakan pakaian mahal. Sebagian adalah bangsawan Jawa. Sebagian lainnya orang-orang Eropa. Senyum mereka sama: dingin. "Pemberontakan itu harus dihentikan," kata salah satu pria Belanda. Seorang priyayi tertawa kecil. "Tentu. Demi ketertiban." Namun di balik kata-kata itu, mata mereka saling mengukur. Tak ada yang benar-benar percaya. Tak ada yang benar-benar setia. Semua hanya menunggu kesempatan untuk menusuk dari belakang.
All Rights Reserved
#264
sejarah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Permaisuri Palsu dan Harem Yang Kucuri
  • The Palace Stewardess
  • Duchess of Valtor
  • Para ibu generasi tahun 60-an dimanipulasi secara mental
  • SUAMI KAISAR
  • 𝐒𝐓𝐎𝐑𝐘 𝟏𝟗𝟔𝟓 ║𝐏𝐈𝐄𝐑𝐑𝐄 𝐓𝐄𝐍𝐃𝐄𝐀𝐍
  • BUN𝖦A PRIBUΜI |ᴅɪғғᴇʀᴇɴᴛ ʙʟᴏᴏᴅ| [END]
  • Asmaranala
  • SINGASARI, I'm Coming! (END)

Aveline Rosenthal de Arcyne mati sebelum mahkota menyentuh kepalanya. Dikhianati oleh kaisar yang ia cintai. Ketika ia mengulang kehidupan, Aveline tetap melangkah menuju istana, bukan untuk mengubah nasib, melainkan untuk mengendalikannya. Tunangan itu palsu. Mahkota itu umpan. Dan para pria yang dulu melindungi Seraphielle si gadis bermuka dua. Aveline akan merebut mereka satu per satu. Bukan demi cinta, melainkan demi balas dendam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines