Arsha Elvaradina tidak pernah percaya pada cinta satu arah. Baginya, perasaan itu seperti kanvas kosong kalau terus diwarnai, lama-lama juga akan jadi lukisan yang indah.
Masalahnya, Aksara Bimantara bukan kanvas kosong. Ia lebih mirip tembok beton: dingin, diam, dan tidak mudah ditembus.
Selama lima tahun sejak masa putih abu-abu yang masih bau buku baru sampai seragam yang mulai terasa sempit oleh usia Arsha mengejar Aksara tanpa menyerah. Ia menggambar wajahnya di buku sketsa, melukis bayangannya di kanvas, bahkan hafal kebiasaan kecilnya. Namun Aksara tidak pernah benar-benar melihatnya.
Di sekolah, Aksara dikenal sebagai siswa pendiam, berwajah dingin, dan sulit didekati. Tapi siapa sangka, di balik sikapnya yang seolah anti-sosial, ia adalah seorang wibu garis keras yang bisa menangis karena karakter anime dan hafal opening lagu Jepang lebih baik daripada lirik lagu nasional.
Arsha tahu sisi itu. Sayangnya, mengetahui tidak selalu berarti dimiliki.
Ketika lima tahun berlalu dan perasaan Arsha masih sama, Aksara justru mulai menyadari sesuatu yang terlambat-bahwa mungkin, selama ini, ada satu lukisan yang tidak pernah ia lihat dengan benar.
Sebuah kisah romantis-komedi tentang perjuangan, gengsi, dan cinta yang terlalu lama disimpan.
All Rights Reserved