Zyruvie Elnathenz

Zyruvie Elnathenz

  • WpView
    Reads 1,463
  • WpVote
    Votes 255
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 26, 2026
Malam itu, langit seolah sedang berduka hebat. Guntur menggelegar menyertai hujan deras yang menghantam aspal gang sempit di pinggiran kota. Weorang lelaki ambruk dengan napas yang tersengal-sengal. Ia telah basah kuyup-bukan hanya oleh air hujan, melainkan oleh darah yang terus merembes dari luka menganga di perutnya. "Maafkan aku... kumohon, biarkan dia melihat dunia yang lebih terang dariku," bisiknya dalam relung hati yang paling dalam. Tak ada suara yang keluar, hanya uap napas terakhir yang menguap di udara dingin sebelum kelopak matanya tertutup selamanya. Sementara itu, suasana di ruang bersalin tak kalah mencekam. Bunyi monitor jantung berdetak ritmis, seolah sedang menghitung mundur waktu yang tersisa. "Sedikit lagi, Bu! Tarik napas dalam... dorong sedikit lagi!" seru seorang perawat. Wanita di atas ranjang itu, dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang ia miliki, memberikan segalanya. Hingga akhirnya, sebuah suara tangisan yang nyaring dan melengking memecah ketegangan di ruangan itu.i Sang Ibu bernapas lega. Perawat Ema dengan cekatan membersihkan bayi itu dan meletakkannya dengan lembut di dekapan ibunya. "Zyruvie... Elnathenz," bisiknya lirih, hampir tak terdengar. "Maafkan Ibu, Sayang. Maaf Ibu tidak bisa menjagamu lebih lama. Jadilah anak yang kuat... jadilah cahaya bagi kegelapan di sekitarmu." Ia mengecup dahi Ruvie lama sekali. Perlahan, pegangan tangannya melonggar. Matanya tertutup dengan tenang, meninggalkan sebuah senyum kecil yang terpatri di bibirnya yang membiru. Suster Ema tertegun di samping ranjang. Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak menyaksikan pemandangan yang menyayat hati itu. "Malang sekali nasibmu, Nak..." bisik Ema dengan suara serak. Ia menggendong Ruvie, mendekapnya erat ke dada, berusaha memberikan kehangatan pengganti yang hilang. "Jangan takut, Ruvie. Dunia mungkin mengambil mereka darimu hari ini, tapi aku bersumpah... aku akan memastikan kamu tetap punya tempat untuk pulang. Kamu tidak akan sendirian."
All Rights Reserved
#461
overprotektif
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • GRAVARENZO
  • GHAIKA (REVISI)
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines