Pada musim semi yang berlumpur dan bau darah, Ivan Melnikov berdiri di sudut kafe tua dengan selembar pamflet yang masih hangat dari mesin cetak. Ia tahu polisi rahasia mengawasi, tapi saat Vera masuk ke ruangan, semua ketakutan mendadak tak relevan. Mereka bukan kekasih. Mereka bahkan tidak sepakat dalam banyak hal: Mereka memiliki pendapat dan pemikiran yang cenderung bertolak belakang. Vera percaya pada anarki yang terstruktur, sementara Ivan percaya sosialisme bisa menyelamatkan jiwa. Tapi mereka pulang ke tempat yang sama. Saling menyalakan rokok di tengah tumpukan naskah yang belum diedit. Saling mencium di lorong cetak saat peluru bersarang di luar jendela. Saling bertanya: "Kalau revolusi gagal, apa kamu masih akan mencintaiku?" Dan tak pernah menjawab. Ivan menulis artikel-artikel yang membuatnya buronan. Vera menyembunyikan salinan koran dalam jaketnya sambil menghadiri rapat-rapat di gudang tua. Mereka miskin, lapar, dan tak punya masa depan. Tapi mereka punya malam. Dan dalam malam-malam itu, mereka berbicara tentang langit. Tentang kota utopis yang tak akan pernah mereka lihat. Tentang kehidupan setelah kematian. Tentang apakah cinta masih bisa hidup kalau sistem berubah. Happy Reading Xoxo 💋
More details