laut yang dalam

laut yang dalam

  • WpView
    Reads 1,216
  • WpVote
    Votes 940
  • WpPart
    Parts 36
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 12, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Laut dalam selalu terlihat tenang dari kejauhan, seolah tidak pernah menyimpan gejolak apa pun. Permukaannya memantulkan cahaya langit dengan lembut, namun semakin jauh menembus kedalamannya, cahaya itu perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah kegelapan yang dingin dan sunyi, seperti ruang yang menyimpan cerita yang tak sempat terucap. Arus laut bergerak perlahan, membawa pasir dan serpihan karang tanpa arah yang pasti. Di antara kegelapan itu, makhluk-makhluk laut tetap hidup dengan caranya sendiri, memancarkan cahaya kecil yang redup. Cahaya itu tidak cukup untuk menerangi seluruh samudra, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kehidupan masih berjalan, meskipun dalam kesunyian. Laut dalam mengajarkan bahwa tidak semua hal harus berakhir dengan suara atau penjelasan. Ada perasaan yang datang dengan tenang dan pergi dengan cara yang sama, meninggalkan jejak yang samar namun sulit dilupakan. Seperti ombak yang kembali ke laut setelah menyentuh pantai, beberapa cerita hanya singgah sebentar, lalu menghilang bersama waktu. Dan laut tetap ada di sana, tenang seperti biasa, seolah tidak pernah berubah. Hanya menyisakan kenangan yang sesekali terasa hadir ketika seseorang memandang cakrawala dan menyadari bahwa tidak semua yang hilang benar-benar pergi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Nakula
  • Kembang Desa

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines