Haykal melepas masker bedahnya dengan perlahan. Tingginya yang mencapai 185 cm membuatnya harus sedikit membungkuk saat menatap cermin di ruang ganti rumah sakit. Hari ini melelahkan, tapi bukan karena pasien.
Ia merogoh saku jas putihnya, memastikan sebuah brosur kecil dengan gambar pesawat Cessna 172 masih ada di sana.
Di rumah, ia adalah anak tunggal kebanggaan yang mengobati luka. Di sini, ia adalah dokter muda yang menjanjikan. Tapi di kepalanya, ia sedang berada di ketinggian 10.000 kaki, jauh dari bau karbol dan suara monitor jantung.
"Haykal, mau makan malam bareng?" sapa Dokter Sarah, rekan sejawatnya yang sudah berkali-kali mencoba mendekatinya.
Haykal memberikan senyum tipis yang sopan-senyum yang selalu ia gunakan untuk menolak secara halus.
"Maaf, Sar. Kucingku di rumah belum makan. Aku harus segera pulang."
Ia selalu risih dengan perhatian yang berlebihan. Baginya, dicintai oleh seseorang yang tidak ia pahami rasanya seperti memakai sepatu yang salah ukuran. Sesampainya di mobil, ia membuka ponselnya. Sebuah notifikasi dari aplikasi Teman Nyurat muncul.
Rin: "Hari ini aku melihat gedung tinggi dan berpikir, apakah jatuh itu rasanya seperti terbang?"
Haykal menghela napas, jemarinya yang panjang mulai mengetik.
"Jatuh itu akhir, Rin. Tapi kalau kamu punya sayap, itu namanya navigasi. Ceritakan padaku, apa yang membuatmu merasa berat hari ini?"
All Rights Reserved