hanya kebetulan berteduh  ( HIATUS  )

hanya kebetulan berteduh ( HIATUS )

  • WpView
    Reads 1,332
  • WpVote
    Votes 1,107
  • WpPart
    Parts 32
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 21, 2026
Hujan mempertemukan mereka secara sederhana, tanpa rencana, tanpa alasan yang jelas. Hanya dua orang asing yang berdiri di bawah satu payung, berbagi teduh yang sama. Percakapan kecil berubah menjadi kebiasaan. Kebersamaan yang awalnya terasa biasa, perlahan menjadi tempat pulang yang tidak pernah mereka sadari sedang dibangun. Namun, ada batas yang tidak terlihat. Bukan karena mereka tidak ingin melangkah lebih jauh, melainkan karena ada hal-hal di hidup mereka yang tidak bisa dipindahkan, tidak bisa disatukan, dan tidak bisa dilawan. Mereka tidak pernah benar-benar memiliki. Hanya... kebetulan berteduh, sebelum akhirnya harus berjalan ke arah masing-masing. Dan seperti hujan yang selalu berhenti, kebersamaan itu pun harus selesai.
All Rights Reserved
#875
kisahsekolah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines