GLIMPSE OF US

GLIMPSE OF US

  • WpView
    Reads 85
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 4, 2026
(Catatan: Walaupun tidak 100% based on true story, Tolong hargai usaha saya dengan tidak menjiplak cerita ini, ya. Selamat membaca!) Masa remaja adalah lembar cerita paling indah dalam ingatanku-waktu di mana cinta terasa tulus dan persahabatan terjalin begitu erat. ​Dari riuhnya sudut kantin saat bel istirahat berbunyi, hingga hadirnya cinta pertama yang memberi warna berbeda pada setiap detiknya. Semua detail kecil itu kini menjelma menjadi kerinduan yang mendalam. ​Ketika waktu terus berjalan menjauh, mungkinkah kenangan indah ini akan benar-benar pudar, atau justru terus memanggilku untuk kembali pulang?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • The Villain Mother
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines