Di dunia Nusantara Dwipa, keseimbangan antara langit dan bumi sedang berada di ambang kehancuran. Sang Hyang Kala, entitas purba pemakan waktu, telah bangkit dari tidur panjangnya. Ia tidak hanya menghancurkan desa-desa, tapi juga mencuri ingatan dan sejarah dari jiwa manusia, meninggalkan mereka sebagai cangkang kosong tanpa masa lalu.
Raden mPu Satya, seorang ksatria agung dari Kekaisaran Astina Pura (Jawa), diutus untuk mencari senjata pemungkas. Namun, ia membawa kutukan berat: setiap kali ia mencabut Keris Kyai Surya untuk melawan kegelapan, sebagian ingatannya akan terhapus. Ia terancam melupakan jati dirinya, tugasnya, bahkan cintanya.
Di utara, Srikandi Boru Sinaga, panglima perang tangguh dari Kedatuan Toba Raya (Batak), sedang memburu bayangan yang telah menculik adiknya. Baginya, orang-orang Selatan hanyalah ksatria penuh basa-basi yang tak bisa dipercaya.
Dua jiwa dari dua kutub yang berbeda ini dipertemukan oleh takdir di Hutan Simalungun yang angker. Satya dengan filosofi langkahnya yang tenang, dan Boru Sinaga dengan tombak petirnya yang meledak-ledak. Mereka harus bersatu menempuh perjalanan ribuan mil menuju puncak Gunung Merapi-Toba-satu-satunya tempat di mana dua pusaka legendaris bisa disatukan.
Di tengah intrik politik istana, pengkhianatan saudara, dan serangan makhluk mitologi, mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah Sang Hyang Kala, melainkan ego dan sejarah kelam bangsa mereka sendiri.
Dapatkah Satya mempertahankan ingatannya tentang wanita yang mulai ia cintai? Ataukah Boru Sinaga harus merelakan pria itu menjadi orang asing demi menyelamatkan dunia?
"Sebuah epos tentang kehormatan, kutukan memori, dan cinta yang melampaui adat."
Todos los derechos reservados