Gita selalu dianggap sebagai sebuah kegagalan oleh keluarganya. Bukan karena ia nakal, bukan pula karena ia tak berusaha. Semua itu bermula saat usianya lima tahun-ketika ibunya melahirkan seorang adik perempuan. Sejak hari itu, rumah menjadi lebih ramai, lebih sibuk, dan penuh tangis bayi. Kedua orang tuanya tersenyum lebih sering, namun senyum itu tak lagi tertuju padanya.
Gita masih berusaha menjadi anak yang sama. Ia duduk rapi menunggu dipanggil, menarik baju ibunya dengan harap ingin digendong. Namun yang ia terima hanya kalimat yang diulang terus-menerus, "Nanti ya, Ibu capek."
Ayahnya pun berubah. Dulu mendengarkan cerita kecil Gita sepulang kerja, kini lebih memilih langsung menuju kamar bayi. Dan Gita?.....berdiri di ambang pintu, menunggu perhatian yang tak pernah kembali.
Perlahan, perhatian berpindah sepenuhnya. Jika adiknya menangis, semua orang bergegas. Jika Gita diam terlalu lama, tak ada yang bertanya. Kesalahan kecil yang dulu dimaklumi kini menjadi alasan untuk dimarahi. Ia dituntut mengerti, dewasa, dan tidak merepotkan-hanya karena ia kakak.
Gita belajar menelan perasaan. Menjadi anak "baik", tidak meminta, tidak menangis. Namun prestasinya jarang dirayakan, usahanya jarang dihargai. Setiap kegagalan kecil menjadi bukti bahwa ia tak pernah cukup.
Sampai ia bertumbuh dewasa, Anggi hadir sebagai kehangatan-tempat pelarian ketika dunia terasa memusuhinya. Namun pengkhianatan Anggi menghancurkan sisa kepercayaannya. Sejak hari itu, Gita menutup hatinya dari siapa pun. Ia membangun dinding pertahanan, meyakinkan diri bahwa sendiri adalah pilihan paling aman.
Hingga keyakinan itu runtuh oleh satu sosok yang tak pernah ia perhitungkan-Kathtina.
Adik perempuannya yang selalu berisik, terlalu peduli.
Pada awalnya hanya gangguan, namun justru dari kebisingan itulah dinding yang Gita bangun dengan susah payah perlahan retak.
Cerita dewasa, mengandung bahasa non baju dan agak kasar. Harap untuk pembaca di bawah 16 tahun jangan membacanya ⚠️
All Rights Reserved