⚠️Up 2-3 kali seminggu Menjalankan masa internship di pedalaman Papua bukanlah pilihan Shanin Wisesa. Benar-benar bukan keinginannya. Ia benci Yabalera dan segala kesulitannya. Namun demi menjalankan tugasnya sebelum menjadi dokter sungguhan, ia terpaksa melakukannya. Ia hanya ingin menyelesaikan masa internship secepat mungkin lalu kembali ke kehidupannya yang nyaman di Jakarta. Namun, semua ekspektasinya hancur begitu tiba di distrik terpencil yang bahkan listrik pun hanya menyala pada waktu-waktu tertentu. Di tempat asing itu, Shanin dipertemukan dengan Pradipta Eralangga, seorang dokter militer yang disiplin, dingin, irit bicara dan selalu menganggapnya terlalu manja. Hari-hari mereka dipenuhi perdebatan, perbedaan cara pandang, hingga benturan ego. Sebuah peristiwa tak terduga memaksa Shanin dan Pra terikat dalam hubungan yang tak pernah mereka rencanakan. Menikah tanpa cinta. Di antara adat, pengabdian, dan luka yang belum sempat sembuh, mampukah keduanya menemukan jalan pulang? Atau harus justru kehilangan satu sama lain untuk selamanya? *** "Nikahkan kami malam ini." Ucap Pra akhirnya Ketua adat mengangguk, bangkit mengambil selendang di dalam sana, meninggalkan Shanin dan Pra di ruang tamu. Tanpa babibu, Shanin langsung menarik kerah baju Pra, merematnya keras sembari melayangkan tatapan tajam. Matanya melotot, napasnya memburu. Ia benar-benar tak terima dengan keputusan sepihak itu. "Kamu gila ya?! Saya gak mau nikah sama kamu!" Tangan Shanin gemetar di leher Pra "Bilang aja ini rencana kamu sama di bapak peyot itu! Kalian jebak saya kan?!" Pra melepas cengkeraman Shanin di lehernya. Menatap perempuan itu dari dekat "Kamu yang mendatangi saya. Kamu yang menaiki tubuh saya. Bahkan..." tanpa malu, Pra melirik miliknya di bawah sana "Kamu yang pegang punya saya. Apa kamu lupa?"
More details