Sebuah Cerita Tentang Pulang, Sujud, dan Takdir yang Tak Pernah Salah Alamat)
"Aku bukan anak baik. Aku hanyalah sepotong jiwa yang lelah berlari dari suara hati sendiri."
Bagi Bingah Minara Kahiyang, rumah bukanlah tempat berlindung. Baginya, rumah adalah penjara ekspektasi yang menyesakkan. Ia memilih melarikan diri ke jalanan, menukar sunyi di kamarnya dengan deru mesin motor yang liar dan tawa kosong di bawah lampu kota. Ia merasa bebas, hingga satu malam... langitnya pecah.
Bukan karena badai, tapi karena air mata ibunya yang jatuh tanpa suara.
Memutuskan masuk pesantren adalah cara Bingah untuk "menghilang". Di sana, di antara dinginnya air fajar dan ubin mushola, ia belajar menjadi kecil lagi. Ia menanggalkan jaket kulitnya, menghapus cat kuku hitamnya, dan mulai mengeja kembali hidupnya yang terbata-bata di hadapan Sang Pemilik Semesta.
Namun, saat Bingah mulai mencintai kesunyiannya, seseorang dari masa lalu datang mengetuk pintu rumahnya.
Laki-laki itu datang bukan dengan janji manis, melainkan dengan cara yang paling terhormat. Sosok yang lima tahun lalu hanya selintas pertemuan di pinggir jalan, kini kembali sebagai jawaban atas doa yang bahkan belum sempat Bingah ucapkan.
Akankah Minara mampu berdiri tegak sebagai menara cahaya, ataukah luka masa lalu akan kembali meruntuhkan sujudnya?
Novel berjudul 'mine' adalah novel terakhir yang dibaca Sabina sebelum kejadian yang merenggut nyawa nya, tanpa disangka Sabina malah masuk ke salah satu tokoh yang tak pernah disebutkan yang bernama Sabina alyara Snowden ,dan yang mengejutkan Sabina adalah istri dari antagonis pria yang tak pernah muncul dalam novel nya