sepuluh tahun lalu, seorang gadis memilih menjauh-dari rumah, dari suara ayahnya, dari kesempatan yang tak pernah kembali.
Kini ayahnya telah tiada, dan penyesalan menjadi luka yang tak berhenti berdarah. Ia tak sempat meminta maaf. Tak sempat menggenggam tangan terakhir. Bahkan tak sempat melihat jasad ayahnya untuk sekali saja.
Trauma membuatnya takut pada semua laki-laki. Bukan benci-melainkan ketakutan yang tumbuh diam-diam, menggerogoti hari demi hari. Ia mencoba sembuh, mencoba berdamai, namun waktu tidak selalu menyembuhkan. Luka itu justru semakin dalam, sampai pada titik di mana hidup terasa terlalu berat untuk dilanjutkan.
Ia tinggal jauh dari keluarga, memikul sunyi seorang diri. Ia merasa tak pernah layak dicintai, namun di lubuk hati terdalam, ia sangat menginginkan cinta itu. Ia tetap menyimpan satu mimpi sederhana yang terasa mustahil: menjadi seorang ibu sebelum ajal menjemputnya.
Ini adalah kisah tentang penyesalan yang terlambat, trauma yang membelenggu, dan harapan yang nyaris padam.
Tentang seorang gadis yang ingin ikut ayahnya-namun juga ingin bertahan. Akankah ia menemukan alasan untuk hidup, memaafkan dirinya sendiri, dan percaya bahwa cinta masih mungkin datang? Ataukah ia akan menyerah pada kegelapan yang telah menemaninya terlalu lama?
All Rights Reserved