Sejak kecil, Nara tahu hidupnya tak akan pernah biasa.
Di kelas 1 SD, ia melihat sosok tinggi bermata merah berdiri di sudut kamarnya. Bukan mimpi. Bukan halusinasi. Itu nyata.
Kelas 4, tubuhnya dihantam sakit yang tak terdeteksi medis. Santet. Tujuh orang terlibat. Empat meninggal satu per satu dalam misteri yang membuat kampung berbisik. Sejak itu, Nara sadar-dunia tak kasat mata bukan sekadar cerita.
Di pesantren, ia dikenal sebagai tabib muda. Santri kesurupan sembuh di tangannya. Ia mampu melihat jarak jauh, mengetahui yang tersembunyi, membaca tanda-tanda yang tak dipahami orang lain.
Namun kekuatan selalu menuntut harga.
Suatu malam, ia dihantam sosok yang jauh lebih kuat dari dirinya. Bukan lagi gangguan kecil-melainkan peringatan.
Di titik itu, Nara memilih berhenti.
Masuk SMA, ia menyembunyikan kemampuannya. Ia ingin hidup normal. Ingin menjadi herbalis, menyembuhkan lewat tanaman, bukan pertempuran gaib.
Tapi bisikan itu tak pernah benar-benar padam.
Karena kemampuan bukan hanya soal melihat yang tak terlihat-
melainkan memilih:
menggunakan... atau membiarkannya menguasai.
Sebuah kisah tentang anugerah yang terasa seperti kutukan, tentang dendam yang diwariskan, dan tentang seorang perempuan yang belajar bahwa kekuatan terbesar bukan pada apa yang ia miliki... tapi pada apa yang ia lepaskan.
All Rights Reserved