KAULAH KAMUKU

KAULAH KAMUKU

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 6, 2026
Setelah beberapa kali dikhianati dan dijadikan pilihan kedua, Arka akhirnya berhenti percaya pada cinta. Bukan karena dia membenci perasaan itu, tapi karena dia lelah menjadi satu-satunya yang selalu serius. Semua itu perlahan mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi berharap. Bagi Arka, cinta hanya tentang waktu tunggu sebelum seseorang pergi. Sampai ia bertemu dengan seseorang yang berbeda. Perempuan itu tidak mencoba menyembuhkannya, tidak memaksanya untuk terbuka, dan tidak menjanjikan apa-apa. Ia hanya hadir dan bertahan-bahkan saat Arka sendiri sudah menyerah pada kemungkinan untuk percaya lagi. Namun ketika itu mulai mengetuk lagi keraguan menguasai pikirannya, Arka dihadapkan pada pilihan terbesar dalam hidupnya: kembali bersembunyi dari cinta, atau mengambil risiko untuk mempercayainya sekali lagi. Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah mencintai. Melainkan berani percaya setelah berkali-kali patah.
All Rights Reserved
#1
hopelessromantic
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • The Villain Mother
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines