Happiness (Jasuke)
"Kapan lo maafin gue ... Sevan?"
Jiro menatap Sevan dengan sorot mata penuh penyesalan. Ia mencoba melangkah mendekatinya.
Sevan menatapnya dingin.
"Setelah Bang Jiga bisa jalan lagi."
Setelah mengatakan itu, Sevan berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Jiro berdiri sendirian di tengah derasnya hujan.
Jiro menundukkan kepala. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menyembunyikan air mata yang bercampur dengan tetesan hujan. Namun, rasa bersalah yang selama ini ia pendam tetap terasa begitu menyesakkan.
"Gue juga nggak mau semua ini terjadi, Sevan ... " seru Jiro dengan suara bergetar.
Sevan menghentikan langkahnya, tetapi tidak menoleh.
"Gue nggak mau Bang Jiga jadi kayak gini ... " lanjut Jiro. "Gue benci kenyataan ini. Gue benci lihat Bang Jiga nggak bisa jalan lagi. Gue benci lihat lo menjauh dari gue."
Suaranya semakin lirih di akhir kalimat, seolah tenaganya habis bersama hujan yang mengguyur tubuhnya.
"Gue benci semuanya, Sevan ... "
Namun Sevan tetap diam.
Tak ada jawaban. Tak ada tatapan. Tak ada pengampunan.
Hanya suara hujan yang jatuh di antara mereka, seakan menjadi batas yang tak lagi bisa dilewati oleh Jiro.