Semua bermula dan berakhir di Obsidian Gate School. Bagi sebagian besar orang, sekolah yang berdiri megah di jantung Yogyakarta ini adalah mercusuar prestasi. Meskipun baru berusia delapan tahun, reputasi akademis dan non-akademisnya telah melampaui institusi-institusi tua yang ada, menjadikannya magnet bagi ambisi para orang tua dari seluruh penjuru negeri.
Bagi Riku Valerian Thorne, Obsidian Gate adalah sebuah obsesi.
Selama setahun penuh di bangku kelas satu SMP di Bandung, Riku hidup dalam kepasrahan yang menyesakkan. Berulang kali ia memohon, berulang kali pula jarak ribuan kilometer antara Bandung dan Yogyakarta menjadi tembok penghalang bagi izin orang tuanya. Namun, gema nama Obsidian Gate tidak pernah meninggalkan kepala Riku. Sekolah terpadu SMP-SMA itu menawarkan lebih dari sekadar pengajaran efisien atau fasilitas asrama mandiri yang mampu menampung delapan siswa dalam satu kamar komunal.
Baginya, sekolah itu adalah rumah bagi sahabat-sahabatnya yang telah lebih dulu menetap di sana.
Saat kenaikan kelas dua SMP, benteng pertahanan orang tuanya akhirnya runtuh. Kegigihan Riku membuahkan hasil; ia resmi menjadi bagian dari komunitas elit tersebut. Rasa syukur dan euforia meledak dalam dada Riku saat ia melangkah melewati gerbang hitam yang menjadi ciri khas sekolah itu. Ia akhirnya kembali untuk merajut janji-janji persahabatan yang sempat terputus oleh jarak.
Namun, di balik dinding asrama yang tampak hangat dan deretan piala yang berkilau di lobi, Obsidian Gate menyimpan sebuah kebenaran yang terkubur. Dua tahun lalu, darah pernah menetes di lorong-lorong ini-sebuah rahasia yang ditutup rapat oleh otoritas sekolah. Kini, saat Riku menapakkan kakinya, keheningan setahun terakhir itu perlahan mulai retak.
Riku datang untuk mencari sahabatnya, namun ia mungkin akan menemukan sesuatu yang jauh lebih gelap: seorang pembunuh yang belum selesai menunaikan tugasnya.
All Rights Reserved