Di ujung sebuah gang yang tak pernah benar-benar sepi, berdiri sebuah bangunan yanh kokoh dengan cat yang agak memudar dan pagar besi yang berderit setiap kali dibuka.
Di depannya, tergantung papan kecil bertuliskan satu nama sederhana, Kosan Babeh.
KOSAN BABEH. Bukan kosan paling bagus di kota, Catnya biasa, kamarnya sederhana, dan dapurnya juga biasa aja.
Namun sejak dua belas cowok itu tinggal, tempat itu berubah jadi tempat paling berisik setiap harinya.
Ada yang sok kalem tapi usil, ada yang keliatan galak tapi gampang banget ketawa.
Setiap hari ada tawa, debat receh, masak-masak bareng, suara pintu dibanting, dan drama kecil lainnya yang mereka ciptakan. Dapur kecil yang jadi saksi bisu, perang rebutan lauk pauk.
Ruang tengah yang berubah jadi bioskop pribadi. Dan segala macam keributan tak pernah berhenti di Kosan Babeh, entah itu karna belanja bulanan atau kamar mandi. Kosan Babeh tidak pernah sepi sama sekali.
Mereka datang sebagai orang asing dari latar belakang yang berbeda, dan membawa cerita masing-masing.
Awalnya, mereka hanyalah orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama. Namun di Kosan Babeh, tanpa mereka sadari, mereka mulai akrab dan menjadi keluarga.
Moment-moment sederhana yang tak selalu terlihat-perhatian kecil, kebersamaan yang tumbuh perlahan, dan kehadiran yang tanpa sadar saling menguatkan.
Kosan itu mungkin tidak sempurna, tidak tenang.
Namun di sanalah, dua belas kehidupan yang berbeda mulai saling terhubung. Dan di tempat yang penuh kekacauan itu, tanpa mereka sadari, sesuatu yang lebih dari sekadar kebersamaan sedang terbentuk. Keluarga.
Karena kadang keluarga bukan soal hubungan darah. Tetapi juga, bisa menjadi seperti dua belas cowok yang setiap hari selalu ribut tapi tetapi duduk bersama ketika salah satu dari mereka sedang lelah pada dunia.
Tutti i diritti riservati