Sang Eksekutor [JossGawin]

Sang Eksekutor [JossGawin]

  • WpView
    Reads 1,213
  • WpVote
    Votes 121
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadComplete Thu, Feb 26, 2026
Joss menghentikan langkah tepat di depan sebuah kubikel yang dipenuhi tempelan memo berwarna-warni dan sketsa tangan yang berantakan. Ia mengamati sebuah gelas kopi kosong yang meninggalkan noda lingkaran di atas meja kayu. Kerutan tipis muncul di dahinya, sebuah tanda ketidaksenangan yang nyata terhadap ketidakteraturan. Bagi Joss, kekacauan visual adalah representasi dari pikiran yang tidak disiplin. "Siapa pemilik meja ini?" suara Joss menggelegar rendah, namun cukup kuat untuk membuat aktivitas di seluruh ruangan terhenti seketika. Seorang pria muda dengan kemeja flanel yang kancing atasnya terbuka bangkit dari kursi di sudut ruangan. Gawin Caskey melangkah maju dengan tenang, meskipun ia bisa merasakan tatapan tajam dari rekan-rekannya yang mengisyaratkan bahaya. Gawin tidak menunduk. Ia justru membalas tatapan Joss dengan binar mata yang menunjukkan harga diri seorang seniman yang terusik.
All Rights Reserved
#160
gawincaskey
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Shared Room, Shared Secrets (JossGawin)
  • RELAPSE
  • Bos & Sekretaris : Cinta, Ambisi dan Rahasia || JOSSGAWIN (Selesai)
  • The CEO and The Supermodel (JossGawin)
  • The Royal Garden
  • The Paper Vow [BL] JossGawin
  • Beyond The Ropes | JG
  • Getting a Messy Heart [JossGawin]
  • Love After Hatred (JossGawin)
  • Beneath The War Sky

[COMPLETED] Gawin cuma ingin hidup tenang. Kuliah, tugas, tidur cukup tanpa drama, tanpa manusia menyebalkan. Tapi semua rencana rapi itu buyar saat pihak kampus menempatkannya sekamar dengan Joss, senior karismatik dengan senyum nakal, aura dominan, dan hobi muncul terlalu dekat... dalam segala hal. Satu kamar. Satu tempat tidur. Dan Joss hanya menatapnya seolah itu bukan masalah besar, sambil berucap ringan: "Kalau kamu takut tidur bareng aku, bilang." "Aku nggak takut." "Bagus. Karena aku nggak janji bakal jauh." Malam pertama mereka masih kaku-bantal dipasang sebagai garis batas. Malam kedua, garis itu mulai bergeser. Malam ketiga... Gawin terbangun dengan kepala di dada Joss dan lengan hangat yang melingkari pinggangnya, seolah itu tempat yang paling wajar di dunia. Makin lama tinggal bersama, makin sulit membedakan mana kebiasaan dan mana kerinduan. Joss terlalu hangat, terlalu perhatian, terlalu mudah menguasai ruangan dan hati yang berusaha Gawin jaga rapat-rapat. Saat rumor mulai menyebar tentang dua cowok yang terlalu dekat untuk sekadar teman sekamar, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan: Apakah mereka harus menjauh demi aman... atau justru jatuh lebih dalam tanpa menoleh lagi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines