MY SKIN FOR YOUR BREATH
Di sebuah rumah yang sunyi dan pengap oleh aroma alkohol serta dendam yang tak kunjung padam, Yozan (21 tahun) hidup dengan satu tujuan tunggal: memastikan adiknya, Haekal (17 tahun), tetap bernapas hingga esok pagi.
Tujuh belas tahun yang lalu, sebuah tragedi membelah keluarga mereka. Sang ibu mengembuskan napas terakhir sesaat setelah Haekal lahir ke dunia. Bagi sang Ayah, Haekal bukanlah anak bungsu yang harus dikasihi, melainkan pencuri yang telah merenggut belahan jiwanya. Setiap kali Ayah menatap mata Haekal, yang ia lihat hanyalah bayangan kematian istrinya.
Sebagai anak sulung, Yozan tumbuh terlalu cepat. Di usia yang baru menginjak 21 tahun, ia sudah kehilangan masa mudanya. Saat teman-teman sebayanya sibuk dengan urusan organisasi kampus atau asmara, Yozan justru sibuk menghitung langkah kaki sang Ayah yang pulang dalam keadaan mabuk.
Setiap kali suara bentakan pecah di ruang tengah, Yozan akan segera berlari, berdiri di depan Haekal, dan menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng. Ia sudah terbiasa dengan lebam di tulang rusuk atau sudut bibir yang pecah, asalkan Haekal tetap bisa belajar untuk ujian sekolahnya di dalam kamar.