ZASTRA

ZASTRA

  • WpView
    Reads 437
  • WpVote
    Votes 118
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 1, 2026
Air mata mengalir deras di pipi zastra, membasahi surat yang baru saja dibacanya. Kata-kata itu, yang seharusnya menjadi ungkapan cinta abadi, kini terasa seperti belati yang menusuk jantungnya. Ia tidak pernah membayangkan, orang yang paling dicintainya akan tega meninggalkan dirinya untuk selamanya. Rasa sakit itu begitu nyata, seolah merobek jiwanya menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak mungkin bisa untuk disatukan kembali. Pertanyaan yang sama terus berputar di benaknya: Bisakah dia benar-benar melupakan, atau takdir akan selalu mengejarnya?
All Rights Reserved
#155
ubi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • laut yang dalam
  • The Villain's Mother
  • Assalamualaikum Anisa
  • Oops, I Like You!
  • Memories in Moon
  • BLUE ROSE
  • [2] Seconder • N. Yuta
  • Jatuh Cinta Dalam Senyumanmu
  • MAKE YOU MELT
  • Traces of our meeting

Laut dalam selalu terlihat tenang dari kejauhan, seolah tidak pernah menyimpan gejolak apa pun. Permukaannya memantulkan cahaya langit dengan lembut, namun semakin jauh menembus kedalamannya, cahaya itu perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah kegelapan yang dingin dan sunyi, seperti ruang yang menyimpan cerita yang tak sempat terucap. Arus laut bergerak perlahan, membawa pasir dan serpihan karang tanpa arah yang pasti. Di antara kegelapan itu, makhluk-makhluk laut tetap hidup dengan caranya sendiri, memancarkan cahaya kecil yang redup. Cahaya itu tidak cukup untuk menerangi seluruh samudra, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kehidupan masih berjalan, meskipun dalam kesunyian. Laut dalam mengajarkan bahwa tidak semua hal harus berakhir dengan suara atau penjelasan. Ada perasaan yang datang dengan tenang dan pergi dengan cara yang sama, meninggalkan jejak yang samar namun sulit dilupakan. Seperti ombak yang kembali ke laut setelah menyentuh pantai, beberapa cerita hanya singgah sebentar, lalu menghilang bersama waktu. Dan laut tetap ada di sana, tenang seperti biasa, seolah tidak pernah berubah. Hanya menyisakan kenangan yang sesekali terasa hadir ketika seseorang memandang cakrawala dan menyadari bahwa tidak semua yang hilang benar-benar pergi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines