Tuhan, hamba-Mu ini pelacur
Karya: D. Pratma
Bagaimana jika dosa tidak lahir dari nafsu, tetapi dari mereka yang merasa paling suci?
Di sebuah dunia yang dipenuhi ayat, khotbah, dan penghakiman, seorang pelacur berdiri di hadapan Tuhan dengan kepala tegak. Ia tidak menyangkal dosanya. Ia tidak bersembunyi di balik pakaian kesalehan. Namun, ia bertanya...
"Mengapa aku yang menjual tubuh disebut hina, sedangkan mereka yang menjual agama disebut mulia?"
Kumpulan puisi ini adalah jeritan seorang manusia yang mempertanyakan banyak hal: tentang Tuhan yang diyakini, tentang umat yang menafsirkan kitab demi membenarkan dosa mereka sendiri, tentang para pemuka yang menghakimi sambil menyembunyikan nafsu, dan tentang masyarakat yang lebih mencintai citra kesalehan daripada kejujuran.
Di antara dosa dan doa, antara tubuh dan iman, antara logika dan keyakinan, lahirlah pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu memiliki jawaban.
Apakah Tuhan benar-benar marah kepada para pendosa?
Ataukah justru manusia yang menciptakan wajah Tuhan sesuai dengan ketakutan dan kepentingan mereka?
Terinspirasi dari semangat berpikir rasional dan keberanian mempertanyakan dogma, "Tuhan, hamba-Mu ini pelacur" bukanlah buku yang menawarkan jawaban. Ia adalah luka, perlawanan, sekaligus pengakuan bahwa terkadang manusia lebih takut pada pertanyaan
daripada pada dosa itu sendiri.
"Jika aku berdosa karena menjadi diriku sendiri, mengapa mereka yang menyakiti atas nama Tuhan masih merasa paling suci?"
All Rights Reserved