Satu Darah, Dua Pulau, dan Rahasia yang Menelan Waktu.
Denpasar, 2024.
Ida Ayu Widya Saraswati hanyalah seorang mahasiswa sejarah yang terobsesi pada mitos, hingga sebuah lontar kuno bernoda darah di Museum Bali menyeretnya menembus retakan realitas. Ia tidak hanya berpindah tempat. Ia jatuh ke masa lalu di mana legenda bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan tragedi yang sedang terjadi.
Jawa & Bali, 1925.
Di dunia yang rimbun dan liar, Widya bertemu dengan Manik Angkeran. Bukan sosok monster penghancur dari buku pelajaran, melainkan pemuda yang hancur oleh manipulasi gelap Ki Ageng Kutu. Sang pengkhianat spiritual tengah mengorkestra Ritual Pembelahan, sebuah rencana keji untuk menghancurkan empat penjaga suci Nusantara demi kekuasaan mutlak.
Dari rimbunnya hutan Bali hingga tanah Wengker di Ponorogo, Widya menyaksikan sejarah yang ia pelajari menjelma menjadi darah dan air mata. Ia melihat wajah neneknya sendiri dalam diri Mirah Putri Ayu, terjebak dalam kutukan cinta yang tragis. Sebagai "Yang Berdarah Campuran", Widya adalah satu-satunya jembatan yang tersisa.
Dengan sepasang gelang sakti dan sisa keberanian, Widya harus memilih: membiarkan sejarah berjalan apa adanya dengan luka permanen yang membelah pulau, atau mempertaruhkan nyawanya untuk menyatukan kembali apa yang telah terpecah.
Karena ketika tanah terbelah dan naga telah mati, hanya pengorbanan yang mampu menyembuhkan luka dunia.
Tutti i diritti riservati