Bertemu di Bandung

Bertemu di Bandung

  • WpView
    Membaca 23
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Feb 26, 2026
Bandung, katanya, adalah kota yang membuat siapa pun jatuh cinta dan selalu ingin kembali. Namun bagi Bulan, rasa itu sudah hadir bahkan sebelum ia benar-benar menginjakkan kaki di kota tersebut. Bukan karena udaranya yang sejuk atau hujannya yang romantis, melainkan karena seseorang yang tinggal di sana-seseorang yang diam-diam menjadi alasan keberaniannya untuk pergi. Di tengah sore yang mendung, Bulan tiba di Bandung dengan perasaan yang tak sepenuhnya ia pahami. Rintik hujan menyambut langkah pertamanya keluar dari stasiun, seolah kota itu tahu bahwa ia datang membawa harapan. Di sepanjang perjalanan menuju kos barunya, ia menikmati setiap sudut kota yang basah oleh hujan, jalanan, lampu-lampu kota, dan bahasa Sunda yang terasa begitu akrab di telinganya. Namun, menetap di Bandung bukan sekadar tentang memulai hidup baru. Ada pesan yang akhirnya ia kirimkan malam itu-pesan sederhana yang mungkin akan mengubah segalanya. "Hai. Apa kabar? Ini gue di Bandung." Apakah pertemuan mereka akan seindah bayangan Bulan selama ini? Ataukah Bandung hanya akan menjadi kota tempat ia belajar tentang rindu dan kenyataan?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#658
bulan
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Nala dan Mas Juragan
  • Dangerous Deal S1-S2 (on going)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EKSKALASI
  • Almost Married (On Going)
  • NINGRUM
  • Define the Relationship
  • Nakula
  • Kembang Desa

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan