
Lembah Dewi bukanlah sekadar nama; itu adalah ironi yang membeku. Terletak di balik pegunungan yang tandus, desa ini adalah titik buta peradaban. Di sini, hujan adalah mitos dan kelaparan adalah tamu tetap. Tanah yang retak-retak tidak memberikan apa pun selain debu. Karena sumber daya yang sangat terbatas, tatanan sosial di desa ini runtuh dan membentuk hukumnya sendiri yang primitif. Salah satu dampak paling nyata adalah kelangkaan wanita. Di Lembah Dewi, memiliki seorang istri adalah kemewahan yang setara dengan memiliki emas; bagi keluarga miskin, itu adalah kemustahilan yang menyakitkan. Di pinggiran desa yang paling sunyi, berdirilah sebuah gubuk yang nyaris roboh milik keluarga Meyer. Keluarga ini terdiri dari beberapa pria-saudara laki-laki yang hanya disatukan oleh darah dan penderitaan. Rumah mereka adalah definisi dari kekosongan. Tidak ada aroma masakan yang menggugah selera, tidak ada kain yang dijahit rapi, dan tidak ada suara lembut yang menenangkan amarah. Mereka hidup seperti binatang buas yang hanya tahu cara bekerja di ladang yang mati dan tidur dalam kedinginan. Kemiskinan mereka begitu absolut sehingga mereka sering kali tidak memiliki pakaian yang utuh, hanya potongan kain kasar yang menutupi bagian tubuh seadanya.Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
1 bab