Di Jakarta, warna itu mahal. Grace Anindita tahu itu sejak kecil--dari ibunya yang sibuk bersolek untuk pesta, dari ayahnya yang lebih mencintai lukisan daripada anaknya, dari Alexander Devandra Williams, pria paling diidamkan di Universitas Arcadia yang mengajarinya bahwa cinta adalah tentang bertahan, bukan tentang bahagia. Alex mengajarinya arti open relationship: ia bebas, Grace setia. Ia berwarna, Grace monokrom. Di dalam kamarnya, Grace menulis puisi-puisi tentang bagaimana rasanya tenggelam dalam kolam renang kampus yang sama yang tiga tahun lalu merenggut nyawa seorang mahasiswa. Tenggelam, tapi tak mati. Hanya hidup dalam abu-abu yang abadi.
Sampai Arsen Nathaniel Prawira masuk ke ruang bacanya. Asisten dosen berumur 26 tahun itu hadir seperti secangkir kopi di pagi hari--menghangatkan, menenangkan, dan membuat Grace bertanya-tanya, mungkinkah ada warna lain di luar hitam-putih yang selama ini ia kenal? Tapi kampus Arcadia bukan tempat yang aman untuk berharap. Apalagi ketika masa lalu tak pernah benar-benar mati--ia hanya menunggu waktu untuk bangkit, dan membawa serta rahasia-rahasia yang seharusnya tetap terkubur.
All Rights Reserved