Riuhmu, Rumahku.

Riuhmu, Rumahku.

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 24, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Menurut Sentanu, Surandari Yuwana Yunandara hanya perempuan berambut keriting yang berisiknya minta ampun. Hidupnya selama ini tenang dan sunyi. Teratur. Tanpa warna mencolok. Tanpa suara tawa yang memantul di lorong pikirannya. Ia menyukai kesunyian karena di situlah tidak ada yang bisa pergi. Lalu Surandari datang. Dengan rambut keriting yang selalu mengembang saat tertawa. Dengan langkah ringan yang tidak pernah tahu arti pelan. Dengan kebiasaan berbicara bahkan ketika tak ada yang menjawab. Ia memanggil namanya tanpa gelar. Ia duduk di sampingnya tanpa izin. Ia tersenyum seolah dunia tidak pernah kejam. Sentanu tidak pernah meminta kehadirannya. Ia bahkan sering berharap gadis itu lelah dan berhenti mengganggunya. Namun suatu hari, Surandari benar-benar berhenti. Dan untuk pertama kalinya, hidup Sentanu kembali sunyi. Hanya saja kali ini- sunyi itu terasa menyakitkan. Karena ternyata, di balik semua keberisikan yang ia keluhkan, ada satu hal yang tak pernah ia sadari: ia sudah terbiasa menunggu suara itu. Dan mungkin, tanpa ia akui, ia tidak pernah benar-benar ingin Surandari pergi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines