Bagi Kira, dunia adalah rangkaian rumus yang pasti. Sebagai siswa kelas 12 IPA, hidupnya hanya berputar di antara hafalan Tabel Periodik dan ambisi masuk universitas. Segala sesuatu harus punya logika-sampai ia bertemu dengan Aira di sudut sunyi sebuah perpustakaan.
Aira adalah sebuah anomali. Seorang siswi pecinta astronomi yang selalu mengalungkan headphone putih besar, namun tak pernah memutar lagu. Alih-alih mendengarkan musik yang sedang tren, Aira justru sibuk merekam suara rintik hujan di berbagai sudut kota. Bagi Kira, itu kebiasaan bodoh yang tidak logis. Namun bagi Aira, suara alam adalah satu-satunya hal yang paling jujur di dunia.
Berawal dari perdebatan konyol soal rasi bintang dan taruhan semangkuk ramen, Kira mulai masuk ke dalam frekuensi milik Aira. Di antara aroma cokelat hangat dan dinginnya kabut Dago Pakar, Kira perlahan menyadari bahwa di balik senyum dan ketengilan gadis itu, ada sebuah rahasia mematikan yang kian meredup di balik headphone-nya.
Kira tidak pernah menyangka bahwa janji melihat bintang akan membawanya berlari menyusuri lorong-lorong beraroma disinfektan di RS Borromeus. Di bawah langit Bandung yang terus menangis, Kira dipaksa belajar satu hukum alam yang tidak pernah ada di buku teks mana pun: bahwa beberapa suara diciptakan bukan untuk didengar selamanya, melainkan untuk dikenang saat kesunyian abadi itu tiba.
Tüm hakları saklıdır