Hujan diujung pantai

Hujan diujung pantai

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 26, 2026
Di ujung pantai, di mana ombak berbisik dan hujan turun tanpa suara, seorang anak lelaki belajar bahwa kesendirian bukanlah kutukan-tapi kanvas kosong yang menunggu untuk diwarnai. Xavier Portillo adalah remaja yang memilih hujan sebagai teman, ombak sebagai pengakuan dosa, dan buku sketsa hitam-putih sebagai satu-satunya bahasa untuk berbicara tentang luka yang tak pernah ia ucapkan. Dunia menjauhinya karena alasan yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti-sampai suatu hari, seorang gadis dengan senyum secerah matahari memutuskan untuk duduk di sampingnya. Namun di balik kehangatan itu, bayangan masa lalu mulai merangkak naik. Sebuah nama yang selama ini terkubur dalam-dalam kembali muncul: Alex. Dan bersama namanya, terbawa pula rahasia kelam tentang pengkhianatan, kebohongan, dan luka yang selama empat tahun membeku dalam diam. Di antara debur ombak dan rintik hujan, Xavier harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang masa lalu, atau membiarkan seseorang-Cindy-menggenggam tangannya dan menariknya keluar dari kegelapan. Tapi perjalanan ini tidak akan mudah. Karena di luar sana, ada orang-orang yang tidak ingin kebenaran terungkap. Ada kekuasaan yang siap menghancurkan siapa pun yang berani melawan. Dan ada cinta-cinta yang mungkin lahir di waktu yang salah, tapi terasa begitu benar. Hujan di Ujung Pantai adalah kisah tentang keberanian untuk memaafkan, tentang kekuatan untuk bangkit, dan tentang bagaimana satu orang bisa menjadi pelangi setelah badai terburuk dalam hidupmu. "Kadang, diam adalah bentuk teriakan paling keras. Dan gambar hitam-putih adalah pelangi bagi mereka yang tak lagi bisa melihat warna." Catatan: Novel ini mengandung tema tentang perundungan, trauma masa lalu, kekerasan psikologis, dan perjalanan penyembuhan. Namun di atas semua itu, ini adalah cerita tentang harapan, persahabatan, dan cinta yang lahir di tengah puing-puing kehancuran.
All Rights Reserved
#43
youngadultfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Salah Status
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines