Tentang Samudra sebagai seorang anak pertama. dan sejak kecil, ia tumbuh bukan sebagai anak melainkan sebagai sandaran.
Namanya seluas laut, tapi hidupnya lebih sering menjadi dermaga. tempat kapal-kapal lelah berlabuh, tempat keluh kesah dititipkan. tempat harapan orang lain disandarkan dengan tenang, seolah ia tak pernah keberatan.
Ia belajar mengalah sebelum belajar meminta. belajar memahami sebelum sempat dipahami. belajar kuat bahkan ketika tidak ada yang benar-benar bertanya apakah ia baik-baik saja.
Sebagai tulang punggung, bahunya terbiasa memikul. bukan hanya soal biaya, tapi juga emosi. Ia menjadi penenang ketika rumah terasa retak. menjadi penyangga ketika keadaan goyah. menjadi yang paling dewasa, bahkan ketika usianya belum siap.
Samudra selalu berkata "iya." iya untuk tanggung jawab. iya untuk harapan.
iya untuk peran yang tidak pernah ia pilih sepenuhnya.
Ia pandai tersenyum agar tak ada yang merasa bersalah padanya. pandai menyembunyikan lelah agar tak menambah beban siapa pun. Ia mengira itulah arti menjadi anak pertama: kuat tanpa jeda, tegar tanpa suara.
Namun jauh di dalam dirinya, ada ombak yang tak pernah benar-benar tenang.
Lelah menjadi penyangga tanpa pernah disangga. lelah menjadi tempat pulang tanpa pernah tahu ke mana ia sendiri harus pulang.
Samudra adalah laut yang luas,
tapi bahkan laut pun perlu dibasuh oleh hujan agar asin yang terlalu lama tertahan bisa sedikit terasa ringan.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, ia ingin belajar bahwa menjadi baik bukan berarti harus selalu mengorbankan diri.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Axel berjalan menuju ranjang. Dia duduk di tepi kasur, memunggungi Lucia, lalu mulai melepas sepatunya.
Lucia gemetar hebat. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membantunya? Atau diam saja?
Axel menoleh ke samping, menatap Lucia yang sedang memeluk lututnya sendiri seperti landak ketakutan.
"Kenapa kau duduk di situ seperti patung?" tanya Axel, suaranya serak dan dalam.
"S-saya... menunggu instruksi, Tuan," cicit Lucia.
Axel mendengus. Dia berbaring telentang di kasur, mengambil tempat yang luas, menyisakan sedikit ruang untuk Lucia. Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi.
"Berbaring," perintah Axel.