Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.
PROLOG

PROLOG

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 26, 2026
Aku selalu percaya bahwa cinta yang baik akan menemukan jalannya. Dulu, aku pikir kita adalah jenis cinta yang seperti itu. Tidak banyak drama. Tidak ada orang ketiga. Tidak ada pengkhianatan besar. Kita hanya dua orang yang saling memilih-setidaknya aku pikir begitu. Kita tumbuh bersama di usia yang belum sepenuhnya dewasa. Kamu tahu bagaimana latar belakangku. Aku tahu bagaimana keluargamu. Kita sama-sama mengerti bahwa jalan kita tidak akan mudah. Tapi kamu selalu bilang, "Tenang saja, kita bisa." Aku percaya pada kalimat itu lebih dari apa pun. Aku pernah membatalkan keberangkatan yang seharusnya mengubah hidupku. Tiket sudah hampir di tangan. Mimpi itu sudah sangat dekat. Tapi aku takut membuatmu merasa kecil. Aku takut membuat keluargamu semakin ragu. Jadi aku memilih tinggal. Memilih kita. Waktu itu aku tidak merasa sedang berkorban. Aku merasa sedang menjaga masa depan. Sampai suatu hari, aku sadar-masa depan yang kujaga tidak pernah benar-benar dijanjikan untukku. Pesan terakhir dari ayahmu bukan tentang aku. Bukan tentang siapa diriku. Tapi cukup untuk membuat namaku perlahan menghilang dari rencana hidupmu. Kita tidak pernah bertengkar hebat. Kita tidak pernah benar-benar putus. Bahkan dua hari sebelum akadmu, kita masih berbicara seperti biasa. Kamu masih bertanya apakah kita bisa tetap bersama. Aku masih berharap kamu akan memilih. Ternyata, berharap dan dipilih adalah dua hal yang berbeda. Hari itu, ketika kamu mengucapkan ijab dengan orang lain, tidak ada yang resmi berakhir di antara kita. Tidak ada kalimat penutup. Tidak ada perpisahan yang layak. Hanya aku, yang akhirnya mengerti- bahwa "hampir" adalah jarak paling menyakitkan antara cinta dan kenyataan. Dan sejak saat itu, aku belajar satu hal: yang paling sulit bukan kehilanganmu. Tapi menerima bahwa kita memang tidak pernah sampai.
All Rights Reserved
#43
spiritualromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Nakula
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines