Bangkit Dari Keterpurukan
Selama ini aku selalu berpikir jika pernikahanku sangat sempurna.
Aku memiliki seorang suami yang pekerja keras.
Dia tidak pernah berhenti berusaha untuk membangun usahanya demi memperbaiki ekonomi kita.
Memilikinya yang selalu membelaku saat mertua atau iparku mengusikku tentang kami yang tidak memiliki anak adalah hal terbaik di dalam hidupku.
Setidaknya itu yang aku pikirkan sampai akhirnya disaat aku hendak memberikan kabar bahagia kepada suamiku tentang aku yang akhirnya hamil, sebuah penantian panjang selama 5 tahun ini, aku menemukannya tengah bersama dengan mantan pacarnya.
Bermesraan di atas meja kantornya, tempat yang selama ini di bangunnya dengan susah payah, tempat yang menjadi saksi bisu bagaimana aku mendukungnya, memberikan segala yang aku miliki saat dia merintisnya.
Dan saat akhirnya kantor ini sudah berdiri tegak, dirinya sukses menjadi seorang kontraktor, nyatanya semua hal itu tidak diperuntukkan untukku, istrinya yang mendampinginya, tapi untuk membuktikan kepada mantan pacarnya, jika akhirnya mereka setara.
"Konon, laki-laki yang menikah ketika mereka sudah siap, bukan ketika mereka sedang paling jatuh cinta. Perempuan yang menjadi istrinya mungkin adalah yang hadir di waktu yang tepat, sementara cinta yang paling membekas telah lama tinggal di masa lalu."
Dulu aku menganggap itu hanya kutipan patah hati yang berlebihan.
Sampai akhirnya aku menyadari...
Aku adalah perempuan yang dinikahi ketika dia siap.
Bukan perempuan yang paling ia cintai.